Jumat, 23 Mei 2014

Gara-Gara MV Korea


Hai! Namaku Riris. Anak kelas 5 SD  ─yang bisa dibilang─  gaul. Aku punya teman banyak, tapi yang paling dekat denganku adalah Sukma, Tasya, dan Putri. Mereka teman baikku dan mengerti semua tentangku. Kami (kecuali aku)  penggemar berat boyband dan girlband Korea. Siapa lagi yang tidak mengenal artis-artis tersebut? Kami selalu mengikuti tren masa kini, tentu saja agar tak dikatai kuper (kurang pergaulan) dan kudet (kurang update). Gara-gara tren itulah kami semua jadi makin akrab. Tapi tak menutup kemungkinan, kami bisa saja bertengkar karena hal sepele, setelah itu saling memaafkan jika salah satu dari kami mengakui kesalahannya.
* * *
Pagi ini, aku sudah bersemangat pergi ke sekolah. Akhirnya, mama mengantarkanku ke depan gang perumahan untuk mencegat angkot jurusan sekolahku. Setelah 5 menit menunggu, angkot jurusanku pun datang, untung tidak terlalu ramai, jadi, aku bisa lebih leluasa memilih tempat duduk. Sekitar dua puluh lima menit, aku sudah berada di depan gerbang sekolah, aku turun dari angkot dan tak lupa membayar ongkos yang bisa dibilang murah untuk ukuran kantong pelajar.
Aku berjalan gontai ke kelas, tampak adik-adik kelasku yang tersenyum ramah menyapaku, aku mengenali mereka semua, Rani, Icha, Deva, dan David, begitu pula mereka juga mengenalku. Aku termasuk anak yang cukup dikenal oleh warga sekolah karena prestasi dan bakatku di berbagai bidang, baik akademik maupun non akademik.
Baru saja sampai di depan pintu kelas, sudah terdengar teriakan histeris Tasya dan Gita yang sedang menonton MV (movie video) terbaru dari girlband yang digemarinya. Aku juga tak tahu, mengapa mereka begitu suka dengan yang namanya boyband dan girlband Korea, bisa dibilang mereka itu K-Popers (sebutan bagi penggemar Korean Pop). Padahal menurutku, boyband dan girlband dari negeri gingseng itu biasa-biasa saja, tidak, aku tidak membenci mereka, hanya saja heran, apa yang disukai dari boyband dan girlband itu?
Biasanya, jika mereka mempunyai MV terbaru dari girlband atau boyband yang digemari, mereka akan diam-diam menyimpannya, paling tidak hanya satu dua orang saja yang mengetahuinya bahwa ia sudah mempunyai yang terbaru. Mengapa? Karena katanya mereka susah sekali mendapatkan MV-MV tersebut, mereka tidak ingin dirugikan karena telah megeluarkan pulsa untuk mendownload MV tersebut di internet, dan membagikannya kepada teman-teman via bluethooth. Kalau sudah begitu, mereka akan menganggap MV tersebut sudah pasaran, dan tidak termasuk baru lagi, maka, mereka akan terus mengikuti kabar terbaru seputar K-Pop, MV apa yang sedang tren saat ini.
“Hei Ris, selamat pagi!” sapa Tasya dan Gita hampir bersamaan.
“Halo. Lagi apa sih? Kok kayaknya seru banget?”
“Ini nih, kita lagi nonton MV terbarunya SNSD, mau lihat?” tanya Gita.
“Nggak deh, hehehe. Aku mau baca buku Matematika saja, kan habis ini ulangan,” jawabku menolak.
“Yah, ya sudah. Nyesel deh kalau nggak nonton.”
“Hmm..,” jawabku sekenanya. Aku sudah sibuk dengan buku Matematikaku, hari ini ulangan, makanya aku berusaha keras agar nilaiku bisa di atas rata-rata kelas. Tadi malam sih sudah belajar, sekarang hanya ingin mengingat-ingat apa yang kupelajari semalaman. Bel tanda masuk berbunyi, aku memasukkan buku Matematikaku ke dalam laci dan mengambil alat tulis serta kertas untuk mengisi jawaban dari soal-soal ulangan. Bissmillaah, ucapku dalam hati.
            * * *
            Matahari tampak menempatkan dirinya dengan angkuh siang ini, hawanya sangat panas. Ini yang membuatku malas keluar kelas, masih ada 2 jam pelajaran sebelum kami pulang ke rumah masing-masing. Sekarang jam istirahat, anak-anak perempuan lebih memilih duduk diam di kelas karena cuaca sangat panas, sedangkan yang laki-laki asyik bertanding sepak bola di lapangan. Sukma menghampiriku, ia ingin ditemani ke kantin, aku hanya mengiyakan, sebenarnya malas, tapi kalau untuk sahabat sendiri, apa sih yang nggak? Kami pun berjalan menyebrangi lapangan. Sesampainya di kantin, Sukma memesan satu es jeruk dan bakso kuah, sedangkan aku hanya duduk di depannya sambil melahap bekal yang dibawakan mama pagi tadi. Kami berbincang mengenai ulangan Matematika yang diberikan Bu Eni tadi, sebetulnya tidak susah-susah sekali, tapi aku lupa rumus untuk menghitung jawaban soal nomor 9, dan aku hanya bisa pasrah dengan jawabanku.
            Setelah selesai makan, kami pun kembali ke kelas. Di kelas, tampak ada yang sedang ribut. Oh! Ada apa ini? Ada apa dengan mereka? Tak biasanya berkelahi, Gita yang sedari tadi hanya berdiri di tempat tidak tahu harus melakukan apa saat teman kelasnya sedang berkelahi. Gita malah tampak asyik menonton duel antara Tasya dan Putri, ada apa dengan mereka? Putri sedang berbicara dengan nada yang sedikit tercekat, mungkin ia mencoba menahan air matanya agar tak jatuh mengenai pipi chubby-nya. Aku dan Sukma mencoba mendengarkan percakapan mereka berdua melalui celah jendela yang membatasi ruang kelas dengan luar kelas.
            “Hei! Aku hanya ingin menonton MV itu, tidak lebih!” elak Putri.
            “E ehh..,” belum selesai Gita berbicara, Tasya sudah menyerobotnya.
       “Bohong! Tadi aku melihatmu sedang menghubungkan koneksi bluethooth handphoneku dengan handphonemu! Apa lagi kalau kau tidak ingin meminta MV itu dari handphoneku tanpa ijin alias mencuri?” teriak Tasya membela dirinya sendiri sambil berlalu keluar kelas, seakan ia tidak peduli apa yang akan dikatakan Putri selanjutnya. Ternyata Tasya keluar untuk menemui Bu Tuti, wali kelas kami. Mungkin ia akan mengadu tentang masalah yang terjadi saat ini.
* * *
            Setelah masalah ini diklarifikasi, ternyata semuanya hanya salah paham. Putri yang dituduh sebagai pencuri MV Tasya sebenarnya sudah meminta ijin ke Gita saat Tasya sedang ke kamar kecil agar diperbolehkan mem-bluethooth MV tersebut, bagaimanapun juga Tasya adalah teman baik Putri, pasti Tasya akan sangat membolehkan jika Putri meminta MV SNSD yang terbaru, tetapi Gita lupa untuk berbicara kepada Tasya saat Tasya sudah kembali. Tasya yang sudah menuduh macam-macam tentang Putri akhirrnya malu sendiri, ini akibatnya jika memotong pembicarang orang lain. Setelah itu, Tasya meminta maaf kepada Putri, Putri pun juga meminta maaf kepada Tasya, akhirnya mereka saling memaafkan.
            “Maafkan aku Putri.”
            “Iya, aku memaafkanmu Tas, aku juga minta maaf ya,” balas Putri disusul senyum manisnya.

Kami bisa saja bertengkar karena hal sepele, setelah itu saling memaafkan jika salah satu dari kami mengakui kesalahannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar