Hai! Namaku
Riris. Anak kelas 5 SD ─yang bisa
dibilang─ gaul. Aku punya teman
banyak, tapi yang paling dekat denganku
adalah Sukma, Tasya, dan Putri. Mereka teman baikku dan mengerti semua
tentangku. Kami (kecuali aku) penggemar
berat boyband dan girlband Korea. Siapa lagi yang tidak mengenal artis-artis
tersebut? Kami selalu mengikuti tren masa kini, tentu saja agar tak dikatai kuper
(kurang pergaulan) dan kudet (kurang update). Gara-gara tren itulah
kami semua jadi makin akrab. Tapi tak menutup kemungkinan, kami bisa saja
bertengkar karena hal sepele, setelah itu saling memaafkan jika salah satu dari
kami mengakui kesalahannya.
* * *
Pagi ini, aku
sudah bersemangat pergi ke sekolah. Akhirnya, mama mengantarkanku ke depan gang
perumahan untuk mencegat angkot jurusan sekolahku. Setelah 5 menit menunggu,
angkot jurusanku pun datang, untung tidak terlalu ramai, jadi, aku bisa lebih
leluasa memilih tempat duduk. Sekitar dua puluh lima menit, aku sudah berada di
depan gerbang sekolah, aku turun dari angkot dan tak lupa membayar ongkos yang
bisa dibilang murah untuk ukuran kantong pelajar.
Aku berjalan
gontai ke kelas, tampak adik-adik kelasku yang tersenyum ramah menyapaku, aku
mengenali mereka semua, Rani, Icha, Deva, dan David, begitu pula mereka juga
mengenalku. Aku termasuk anak yang cukup dikenal oleh warga sekolah karena
prestasi dan bakatku di berbagai bidang, baik akademik maupun non akademik.
Baru saja
sampai di depan pintu kelas, sudah terdengar teriakan histeris Tasya dan Gita
yang sedang menonton MV (movie video) terbaru dari girlband yang digemarinya.
Aku juga tak tahu, mengapa mereka begitu suka dengan yang namanya boyband dan
girlband Korea, bisa dibilang mereka itu K-Popers (sebutan bagi penggemar
Korean Pop). Padahal menurutku, boyband dan girlband dari negeri gingseng itu
biasa-biasa saja, tidak, aku tidak membenci mereka, hanya saja heran, apa yang
disukai dari boyband dan girlband itu?
Biasanya, jika
mereka mempunyai MV terbaru dari girlband atau boyband yang digemari, mereka
akan diam-diam menyimpannya, paling tidak hanya satu dua orang saja yang
mengetahuinya bahwa ia sudah mempunyai yang terbaru. Mengapa? Karena katanya
mereka susah sekali mendapatkan MV-MV tersebut, mereka tidak ingin dirugikan
karena telah megeluarkan pulsa untuk mendownload MV tersebut di
internet, dan membagikannya kepada teman-teman via bluethooth. Kalau
sudah begitu, mereka akan menganggap MV tersebut sudah pasaran, dan tidak
termasuk baru lagi, maka, mereka akan terus mengikuti kabar terbaru seputar
K-Pop, MV apa yang sedang tren saat ini.
“Hei Ris,
selamat pagi!” sapa Tasya dan Gita hampir bersamaan.
“Halo. Lagi apa
sih? Kok kayaknya seru banget?”
“Ini nih, kita
lagi nonton MV terbarunya SNSD, mau lihat?” tanya Gita.
“Nggak deh,
hehehe. Aku mau baca buku Matematika saja, kan habis ini ulangan,” jawabku
menolak.
“Yah, ya sudah.
Nyesel deh kalau nggak nonton.”
“Hmm..,”
jawabku sekenanya. Aku sudah sibuk dengan buku Matematikaku, hari ini ulangan,
makanya aku berusaha keras agar nilaiku bisa di atas rata-rata kelas. Tadi
malam sih sudah belajar, sekarang hanya ingin mengingat-ingat apa yang
kupelajari semalaman. Bel tanda masuk berbunyi, aku memasukkan buku
Matematikaku ke dalam laci dan mengambil alat tulis serta kertas untuk mengisi jawaban
dari soal-soal ulangan. Bissmillaah, ucapku dalam hati.
* * *
Matahari tampak
menempatkan dirinya dengan angkuh siang ini, hawanya sangat panas. Ini yang
membuatku malas keluar kelas, masih ada 2 jam pelajaran sebelum kami pulang ke
rumah masing-masing. Sekarang jam istirahat, anak-anak perempuan lebih memilih
duduk diam di kelas karena cuaca sangat panas, sedangkan yang laki-laki asyik
bertanding sepak bola di lapangan. Sukma menghampiriku, ia ingin ditemani ke
kantin, aku hanya mengiyakan, sebenarnya malas, tapi kalau untuk sahabat
sendiri, apa sih yang nggak? Kami pun berjalan menyebrangi lapangan.
Sesampainya di kantin, Sukma memesan satu es jeruk dan bakso kuah, sedangkan
aku hanya duduk di depannya sambil melahap bekal yang dibawakan mama pagi tadi.
Kami berbincang mengenai ulangan Matematika yang diberikan Bu Eni tadi,
sebetulnya tidak susah-susah sekali, tapi aku lupa rumus untuk menghitung
jawaban soal nomor 9, dan aku hanya bisa pasrah dengan jawabanku.
Setelah selesai
makan, kami pun kembali ke kelas. Di kelas, tampak ada yang sedang ribut. Oh!
Ada apa ini? Ada apa dengan mereka? Tak biasanya berkelahi, Gita yang sedari
tadi hanya berdiri di tempat tidak tahu harus melakukan apa saat teman kelasnya
sedang berkelahi. Gita malah tampak asyik menonton duel antara Tasya dan Putri,
ada apa dengan mereka? Putri sedang berbicara dengan nada yang sedikit
tercekat, mungkin ia mencoba menahan air matanya agar tak jatuh mengenai pipi chubby-nya.
Aku dan Sukma mencoba mendengarkan percakapan mereka berdua melalui celah
jendela yang membatasi ruang kelas dengan luar kelas.
“Hei! Aku hanya
ingin menonton MV itu, tidak lebih!” elak Putri.
“E ehh..,” belum
selesai Gita berbicara, Tasya sudah menyerobotnya.
“Bohong! Tadi aku
melihatmu sedang menghubungkan koneksi bluethooth handphoneku dengan handphonemu!
Apa lagi kalau kau tidak ingin meminta MV itu dari handphoneku tanpa ijin alias
mencuri?” teriak Tasya membela dirinya sendiri sambil berlalu keluar kelas, seakan
ia tidak peduli apa yang akan dikatakan Putri selanjutnya. Ternyata Tasya
keluar untuk menemui Bu Tuti, wali kelas kami. Mungkin ia akan mengadu tentang
masalah yang terjadi saat ini.
* * *
Setelah masalah
ini diklarifikasi, ternyata semuanya hanya salah paham. Putri yang dituduh
sebagai pencuri MV Tasya sebenarnya sudah meminta ijin ke Gita saat Tasya
sedang ke kamar kecil agar diperbolehkan mem-bluethooth MV tersebut,
bagaimanapun juga Tasya adalah teman baik Putri, pasti Tasya akan sangat
membolehkan jika Putri meminta MV SNSD yang terbaru, tetapi Gita lupa untuk
berbicara kepada Tasya saat Tasya sudah kembali. Tasya yang sudah menuduh
macam-macam tentang Putri akhirrnya malu sendiri, ini akibatnya jika memotong
pembicarang orang lain. Setelah itu, Tasya meminta maaf kepada Putri, Putri pun
juga meminta maaf kepada Tasya, akhirnya mereka saling memaafkan.
“Maafkan aku
Putri.”
“Iya, aku
memaafkanmu Tas, aku juga minta maaf ya,” balas Putri disusul senyum manisnya.
Kami bisa saja
bertengkar karena hal sepele, setelah itu saling memaafkan jika salah satu dari
kami mengakui kesalahannya.